Tubuh Perempuan dan Keadilan Ekologis : Suara Anak Muda Melawan Dampak Lingkungan terhadap Kesehatan Reproduksi

Bagikan Via:

PALU, MEDULA.ID – menjelang peringatan International Women’s Day (IWD 2026), SEMESTA atau yang biasa disebut dengan Solidaritas Perempuan Muda untuk Kedaulatan Tubuh dan Keadilan Ekologi mengadakan rangkaian agenda Peta Tubuh dan Panggung Ekspresi Semesta yang berlangsung selama dua hari pada tanggal 11-12 April 2026. Hari pertama kegiatan diawali dengan Peta Tubuh yang dilaksanakan di Kantor Yayasan Sikola Mombine, Jl. Sis Aljufri, Kota Palu, dan dihadiri oleh puluhan peserta perempuan yang berasal dari berbagai latar belakang organisasi dan komunitas.


Melalui Peta Tubuh, setiap peserta berefleksi atas pengalaman tubuh dan ruang hidup yang telah dilalui sampai hari ini. Ruang ini menjadi hal yang penting dilihat untuk memperkuat dan mengenali diri sendiri. Diruang ini, setiap peserta mengawali diskusi bersama Nurlaela Lamasitudju, selaku Direktur Solidaritas Korban Pelanggaran HAM Sulawesi Tengah. Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan menggambarkan tubuh masing-masing dan menuliskan pengalaman-pengalaman yang telah dilalui oleh setiap peserta. Sesi ini berlangsung mulai pukul 10 pagi hingga 5 sore. Dalam diskusi dan sharing mengenai Peta Tubuh peserta dibagi menjadi dua kelompok fasilitator, yaitu kelompok yang bersama dengan Nurlaela Lamasitudju, dan kelompok yang bersama dengan Suci Fira Midasanti. Peta Tubuh tak hanya sekedar refleksi atas tubuh diri manusia, namun juga menjadi bagian dari memperkuat solidaritas gerakan perempuan dalam memperjuangkan hak atas tubuh, kesehatan, dan keadilan bagi semua perempuan.


Kemudian pada hari kedua, telah dilaksanakan Panggung Ekspresi Semesta yang berlangsung di Gedung Kesenian Kota Palu dan dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai latar belakang organisasi. Panggung Ekspresi Semesta menampilkan beragam keresahan dari berbagai latar belakang, keresahan yang timbul dari dampak ekstraktivisme yang ada di daerah Sulteng, perempuan yang direnggut hak atas hidup dan tinggal di tanah sendiri, ini merupakan wadah yang tertuang untuk membicarakan isu-isu yang tidak baik-baik saja, bagaimana tambang merenggut hak atas hidup masyarakat adat, perempuan, orang muda, dan lainnya. Juga menampilkan musikalisasi puisi, tarian Pamonte, dan penampilan live musik. Diskusi yang ditampilkan dalam forum ini diharapkan dapat menjadi ruang perlawanan bagi kita untuk menghadirkan ruang dialektika bagi kita semua, yang resah dengan permasalahan di daerah maupun nasional.


Adapun Panggung Ekspresi Merdeka menampilkan pembicara dari berbagai latar belakang, yakni Wandi selaku aktivis lingkungan, Melvin Meilawati Saidu selaku tenaga kesehatan profesional dan penggerak sosial, Iyan Oktaviani selaku praktisi pengembangan masyarakat, Chinta selaku Kordinator Kampanye dan Advokasi di Perempuan Mahardhika Palu, Indri selaku aktivis muda dan Ketua Internal Himasos FISIP Universitas Tadulako, dan Arini Aklam Syahputri selaku mahasiswa dan Anggota Forum Anak Watusampu.
SEMESTA hadir untuk memperkuat solidaritas, membangun kesadaran masyarakat khususnya Sulawesi Tengah, berbagi energi, dan merayakan perjuangan perempuan dalam ruang yang aman dan setara. Agenda Panggung Ekspresi ini diawali dengan Penampilan Musik yang dimulai pada pukul 18.30 WITA, kemudian pemutaran Film Dokumenter “The Other Planet”, film ini memberikan gambaran kondisi Bahodopi, Kab. Morowali, pasca masuknya industri. Lalu dilanjutkan dengan talking session dengan menghadirkan 6 pembicara yang menyampaikan isu masing-masing dengan diselingi penampilan musikalisasi puisi dari Anggota Nemu Buku, dan diakhiri dengan Sesi Diskusi bersama seluruh peserta hingga pukul 22.00 WITA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *