PALU, MEDULA.ID – Estafet kepemimpinan Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) di Bumi Tadulako resmi bergulir. Dalam sebuah prosesi yang penuh khidmat di Kota Palu, Selasa (28/07/2026), Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gekrafs, Kawendra Lukistian, menyerahkan mandat tertinggi wilayah kepada Hasan Abdul Kadir.
Penyerahan pataka kebesaran Gekrafs dari tangan Kawendra kepada Hasan menjadi simbol sahnya kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gekrafs Sulawesi Tengah periode 2026–2029. Namun, Hasan Abdul Kadir tak membiarkan momentum itu berhenti pada perayaan seremonial belaka.
Tampil sebagai nakhoda baru yang siap bekerja cepat, hanya beberapa saat setelah dirinya dilantik, Hasan langsung mengambil alih panggung persidangan. Menggunakan kewenangannya sebagai Ketua DPW definitif, Hasan Abdul Kadir secara maraton langsung melantik jajaran pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) tingkat kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah.
Di bawah komandonya malam itu, pengurus DPC Kota Palu, Sigi, Donggala, Parigi Moutong, Tojo Una-Una, Banggai, Banggai Kepulauan, Banggai Laut, Morowali, Morowali Utara, Buol, hingga sayap Gekrafs Kampus Sulawesi Tengah, resmi dikukuhkan untuk segera turun ke lapangan.
Bagi Hasan Abdul Kadir, legitimasi dari pusat yang dipimpin oleh Kawendra Lukistian dan Wakil Ketua Umum Abcandra Muhammad Akbar Supratman adalah amunisi besar. Dalam pidato perdananya usai melantik para ketua DPC, Hasan langsung melempar gagasan tajam terkait arah pergerakan ekonomi daerah.
Ia menyoroti sebuah ironi: Sulawesi Tengah saat ini berstatus sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia, namun angka kemiskinan di tingkat akar rumput belum sepenuhnya terkikis.
“Ini adalah tantangan besar kita. Saya yakin dengan barisan yang baru saja kita bentuk, Gekrafs mampu menciptakan revolusi ekonomi di daerah ini. Tugas utama kita adalah mentransformasikan ekonomi Sulteng yang selama ini terlalu bergantung pada sektor ekstraktif, beralih menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan menyentuh rakyat kecil,” urai Hasan Abdul Kadir dengan tegas.
Gaya kepemimpinan proaktif Hasan juga terlihat dari instruksi langsungnya kepada seluruh pengurus DPC yang baru saja ia lantik. Ia tidak ingin Gekrafs di kabupaten dan kota hanya menjadi organisasi “papan nama” yang sibuk dengan agenda seremonial.
Hasan menuntut agar DPC Gekrafs menjadi rumah inklusif yang mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus mengurangi kesenjangan ekonomi.
“Segera kembali ke daerah masing-masing dan langsung bekerja. Bangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas kreatif, akademisi, hingga dunia usaha. Lahirkan program nyata, ciptakan inovasi, dan pastikan kehadiran Gekrafs benar-benar memberikan manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” instruksi Hasan memacu semangat para kadernya.
Melalui manuver cepat pascapelantikan ini, Hasan Abdul Kadir mengirimkan pesan kuat: Gekrafs Sulawesi Tengah di bawah kepemimpinannya adalah mesin penggerak yang siap memacu sektor ekonomi kreatif menjadi tulang punggung baru kesejahteraan daerah.
