Semesta: Perjuangan Perempuan Tak Terpisahkan dari Keadilan Sosial dan Buruh

Bagikan Via:

‎PALU, MEDULA.id. – Solidaritas Perempuan Muda untuk Kedaulatan Tubuh dan Keadilan Ekologi (Semesta) menyoroti empat persoalan utama yang tengah dihadapi perempuan di Sulawesi Tengah.

‎Hal tersebut disampaikan melalui dokumen “Deklarasi Semesta” dalam kegiatan deklarasi yang menjadi bagian dari peringatan Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional pada 1–2 Mei 2026 di Palu.

‎Dalam pernyataannya, Semesta menyebutkan bahwa perempuan di Sulawesi Tengah saat ini dihadapkan pada empat krisis yang saling berkaitan, yakni kekerasan seksual, ketidakadilan dalam dunia kerja, keterbatasan akses terhadap kesehatan reproduksi, serta kerusakan lingkungan.

‎Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), kasus kekerasan terhadap perempuan di Sulawesi Tengah pada periode Januari hingga Juni 2025 tercatat sebanyak 104 kasus, dengan kekerasan seksual sebagai bentuk yang paling dominan. Jika dilihat dalam kurun waktu satu tahun, jumlah tersebut bahkan mencapai 621 kasus.

‎Selain itu, persoalan ketidakadilan kerja juga menjadi realitas yang dihadapi perempuan, khususnya di kawasan industri besar seperti Morowali. Buruh perempuan kerap mengalami jam kerja panjang, upah rendah, pengabaian hak maternitas, minimnya fasilitas ramah perempuan, lingkungan kerja yang tidak aman, hingga risiko kekerasan seksual di tempat kerja.

‎Semesta juga menilai bahwa aktivitas industri ekstraktif di Sulawesi Tengah turut memberikan dampak serius terhadap kesehatan reproduksi perempuan dan kondisi lingkungan. Eksploitasi sumber daya alam serta perubahan cuaca ekstrem dinilai memengaruhi ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, hingga kesehatan mental perempuan.

‎Melihat kondisi tersebut, Semesta menegaskan bahwa perjuangan perempuan tidak dapat dipisahkan dari gerakan buruh dan upaya mewujudkan keadilan sosial.

‎Sebagai tindak lanjut, Semesta mendesak negara untuk mengambil langkah konkret, di antaranya menyediakan layanan gratis dan berpihak bagi korban kekerasan seksual, memperkuat upaya pencegahan dan perlindungan, serta memastikan proses hukum yang tidak memberatkan korban.

‎Selain itu, Semesta juga mendorong penghentian praktik industri yang merusak lingkungan, pemulihan ruang hidup yang terdampak, serta pelibatan perempuan dalam pengambilan kebijakan terkait lingkungan.

‎Di sektor ketenagakerjaan, mereka menuntut pemberian upah layak, jaminan kondisi kerja yang aman, penghapusan eksploitasi, serta perlindungan perempuan dari kekerasan dan diskriminasi.

‎Sementara itu, terkait kesehatan reproduksi, Semesta menekankan pentingnya akses layanan yang aman, terjangkau, dan bebas stigma, termasuk jaminan layanan bagi korban kekerasan serta pengakuan bahwa kesehatan reproduksi merupakan hak setiap perempuan.

‎“Tubuh perempuan bukan alat produksi. Perempuan berhak mendapatkan perlindungan. Kami menolak untuk diam dan akan terus berjuang demi kehidupan yang adil dan bermartabat,” demikian pernyataan penutup Semesta.

‎Dalam kegiatan tersebut, moderator Adli dari Yayasan Sikola Mombine menekankan pentingnya keberpihakan terhadap pekerja, termasuk guru yang masih mengalami diskriminasi kebijakan. Ia juga menyinggung momentum Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei sebagai refleksi atas ketidakadilan yang masih terjadi.

‎Sementara itu, narasumber Sofianti Bantara, seorang pendidik dan pegiat literasi, menyoroti pentingnya kompetensi dalam mendidik, termasuk pemahaman tentang kedisiplinan. Ia juga mengingatkan bahwa profesionalisme guru ditandai dengan kepemilikan sertifikat pendidik sebagaimana diatur dalam regulasi.

‎Narasumber lainnya, Vivi Widyawati dari Aktivis Perempuan Mahardhika, menegaskan bahwa peringatan May Day tidak hanya berbicara soal upah, tetapi juga mencakup isu tubuh perempuan, kebebasan, serta sistem pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *